Perbankan memiliki peranan yang sangat dominan dalam perekonomian di Indonesia. Perannya tersebut dapat terlihat pada pengaruh kegiatan sektor perbankan yang berdampak terhadap perkembangan beberapa indikator ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, pengangguran serta keadaan hubungan ekonomi dengan luar negeri. Pemberian kredit merupakan kegiatan utama bank yang mengandung resiko yang dapat berpengaruh pada kesehatan dan kelangsungan bank. Konsekuensi bank sebagai lembaga intermediasi yang bermotif laba adalah menyalurkan dana yang dihimpunnya dalam bentuk pinjaman (kredit) dimana sebagian besar dana berasal dari dana masyarakat. Perkreditan sendiri merupakan bagian yang paling penting dalam kegiatan bisnis perbankan, dimana aset utama perbankan adalah kredit yang disalurkan kepada debitur. Besarnya jumlah kredit yang disalurkan bank dalam aktiva bank (± 70 % dari total aset sebuah bank), menunjukkan pentingnya peranan kredit dalam rangka menghasilkan pendapatan bunga, sebab sebagian besar pendapatan yang diterima bank merupakan pendapatan yang berasal dari kegiatan penyaluran kredit. Akan tetapi kredit juga merupakan aktiva bank yang mengandung resiko paling tinggi. Resiko ini akan semakin besar bila bank tidak mampu meningkatkan atau memperbaiki kualitas kredit yang disalurkan.
Kredit juga memiliki strategi yang dapat menyebabkan pengelolaan kredit menjadi sangat penting. Tujuan pengelolaan kredit adalah agar bank dapat meningkatkan kesehatan dan kinerjanya, dengan peningkatan kuantitas dan kualitas kredit. Kuantitas kredit dinilai dari jumlah dan tingkat pertumbuhan kredit yang disalurkan. Kualitas kredit, secara sederhana dan ringkas dapat diukur dari jumlah dan porsi kredit bermasalah (non perfoming loans). Kualitas penanaman dana oleh bank sangat menentukan kelangsungan usaha bank, sebab itu pengelola bank berkewajiban menjaga agar kualitas penanaman dana pada aktiva produktif senantiasa dalam keadaan baik. Kualitas kredit juga dapat digolongkan menjadi lima golongan yaitu : lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet menurut kriteria. Penetapan kualitas kredit dilakukan dengan melakukan analisis terhadap faktor penilaian (prospek usaha, kinerja debitur, dan kemampuan membayar) dengan mempertimbangkan komponen-komponen di atas. Penetapan kualitas kredit dilakukan dengan mempertimbangkan signifikansi dan materialitas dari setiap faktor penilaian dan komponen serta relevansi dari faktor penilaian dan komponen terhadap debitur yang bersangkutan. Selain keragaman dan kuantitas kredit, dan kualitas kredit juga menentukan tingkat kebutuhan likuiditas.
Bank-bank dengan kredit lancar, lebih mudah mengelola likuiditasnya, dibanding dengan bank-bank yang memiliki kredit bermasalah. Kredit bermasalah bukan saja menyebabkan bank kehilangan pendapatan, tetapi juga bank harus menambah cadangan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktivitas) untuk menyelamatkan aktiva kreditnya. Selain itu kredit bermasalah juga membuat bank semakin sulit memprediksi kebutuhan likuiditas dan semakin banyak rencana yang harus direvisi. Untuk itu diperlukan sistem pengendalian internal yang menjadi dasar bagi kegiatan operasional bank yang sehat dan aman dalam manajemen bank.
Suatu pengendalian internal yang dapat menunjang efektivitas sistem pemberian kredit. Dengan terselenggaranya pengendalian internal yang memadai dalam bidang perkreditan, berarti menunjukkan sikap kehati-hatian dalam bank tersebut. Pengendalian internal adalah suatu sistem yang terdiri dari kebijakan dan prosedur yang diterapkan untuk memastikan bahwa tujuan tertentu suatu usaha dapat dicapai.
Sistem Pengendalian Internal yang efektif dapat membantu pengurus Bank menjaga aset Bank, menjamin tersedianya pelaporan keuangan dan manajerial yang dapat dipercaya, meningkatkan kepatuhan Bank terhadap ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta mengurangi risiko terjadinya kerugian, penyimpangan dan pelanggaran aspek kehati-hatian. Terselenggaranya Sistem Pengendalian Internal Bank yang handal dan efektif menjadi tanggung jawab dari pengurus dan para pejabat Bank. Selain itu, pengurus Bank juga berkewajiban untuk meningkatkan risk culture yang efektif pada organisasi Bank dan memastikan hal tersebut melekat di setiap jenjang organisasi.
Dari berbagai aspek mengenai kredit bank dapat saya simpulkan pula bahwa kredit bank merupakan peranan yang penting dalam suatu bank untuk meningkatkan pendapatan bunga, sehingga pendapatan suatu bank dapat meningkat secara signifikan karena adanya kredit meskipun kredit bank salah satu peranan yang penting untuk meningkatkan laba bank melalui bunganya yang besar ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masalah perkreditan yaitu kredit tidak selamanya lancar dalam proses pengembalian dari debitur (yang meminjam uang ke bank) adakalanya suatu bank memiliki kredit yang pengembaliaannya tersendat atau yang biasa kita dengar dengan kredit macet, hal ini perlu diperhatikan karena masalah yang bisa timbul dari kredit macet tersebut sangat beresiko tinggi bagi suatu bank yang nantinya bank akan kekurangan dana yang likuid. Karenanya pengelolaan kredit yang baik sangat penting melalui peningkatan kualitas dalam pengelolaannya sehingga terciptanya kredit yang sehat dan bank memiliki likuid yang cukup untuk mempertahankan kelangsungan usaha bank.



